|
| Saturday, December 29, 2007
|
| Perempuan Berpolitik, apa harus di parlemen??
|
SEBAGAI bagian dari masyarakat, perempuan sudah saatnya menentukan arah politik di tanah airnya sendiri. Kaum itu jangan hanya selalu mengikuti arah kebijakan pemerintah tanpa ada sikap kritis dalam mengawal aturan yang ada. Menyikapinya, tentu dengan gerakan yang lebih sistematis dan strategis. Ketua Gerakan Muslimah Indonesia, Hj Irena Handono mengatakan, perempuan tak harus berpartai politik, tapi wajib menentukan sistem politik. Irena juga mengkritik model politik perempuan atau gender yang kerap digaungkan oleh banyak politisi perempuan. “Saya orang nonpolitik, tapi selalu melakukan gerakan poltik untuk perubahan pemikiran kaum muslimah di Indonesia. Sebab, bagi saya yang terpenting adalah bentuk perjuangan kita,” ujarnya.
Langkah strategis politik perempuan, bukan dengan adanya pembagian quota gender di seluruh struktur legislatif, eksekutif dan yudikatif. Pemegang kekuasaan kita hari ini tidak punya komitmen politik untuk pencerdasan dan pencerahan. Hadirnya tokoh-tokoh muslim dalam struktur kekuasaan, juga tidak membawa perubahan, semisal Hamzah Haz yang dulu yang jadi wapres, Gus Dur jadi presiden, tapi tak ada yang signifikan berubah di Indonesia. Perjuangan kuota 30% suara perempuan di Parlemen hanyalah akan menyibukkan kita untuk bisa mengatasi persoalan perempuan sendiri. Bagi muslimah, harusnya kita mampu membuat kekuatan semacam people power, dengan mengintensifkan dakwah dan gerakan kultural, yang menanamkan nilai syariat Islam. Tanpa harus berparpol, perempuan juga bisa berpikir politis serta strategis. {Sumber : http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=33457}
Mengapa saat ini perjuangan kuota 30% begitu hebohnya? Mereka yang memperjuangkan suara perempuan di parlemen menganggap, persoalan perempuan hanya akan bisa dituntaskan jika ada perwakilan perempuan di sana, sehingga nantinya para wakil tersebut mampu membuat aturan untuk membela hak-hak perempuan. Ide genderpun semakin mengakar kuat pada jiwa-jiwa muslimah. Harusnya, bila ingin persoalan perempuan diselesaikan lewat jalur parlemen, kita harus memahami terlebih dulu makna politik. Pengertian politik di kalangan ummat perlu diluruskan, jika parpol sesuai dengan manhaj Rasulullah SAW why not??? karena perjuangan untuk mencerdaskan perempuan akan “politik Islam” immposible jika bersifat individual. Dalam ISLAMpun, terdapat kewajiban dan hak antara pria dan wanita. Pria dan wanita sama-sama ciptaan ALLAH. Hanya yang membedakannya ketakwaan padaNYA. Pria memang punya kelebihan yang tidak dimiliki wanita, maka dalam pemberian “jobs” masing-masing pun berbeda. Dan kiprah wanita masa kinipun bukan dilihat dari dominasi dalam pemerintahan legislatif, yudikatif, dan eksekutif. Karena berpikir politik itu bisa kok dilakukan semua orang, termasuk wanita.
Adalah sah saja bagi wanita berpolitik selama dia tidak melupakan atau melalaikan tugas utamanya yaitu sebagai Ummu dan Rabbatul Bait. Dan Det kira justru disanalah tugas utuma politik perempuan sebab ketika dia menjadi Ummu dia mendidik anaknya untuk menjadi orang yang Arif dan Faqih dalam berbagai bidang sehingga menjadi seorang Ulama. Sebagai Rabbatul Bait dimana seorang perempuan membuat kondisi yang kondusif bagi keluarganya untuk mendidik mental/kejiwaan dan pemikiran anak-anaknya. Maka, wahai para wanita jangan merasa terkungkung dengan masalah begituan. tapi ubahlah paradigma-mu sesuai koridor ISLAM. Kelak akan kau temukan jawabannya. Tapi sayang, perempuan sekarang cenderung hanya menganggap politik ketika memegang jabatan legislatif ato eksekutif. Akhirnya dengan bangga unjuk kebolehan menjadi perempuan yang katanya “terberdayakan”. Bangga ketika jadi menteri pemberdayaan perempuan, jadi utusan WHO, bangga jadi kaki tangan asing untuk mempropagandakan kebebasan perempuan, bahkan bangga melepaskan syariat ISLAM. Naudzu billah. Tapi…, tidak pernah bangga menjadi penyeru di jalan Islam, tidak pernah bangga menjadi muslimah yang berjuang dan berpolitik Islam. Apakah kebanggan itu karena gak ada visualisasinya? ataukah karena kita enggan karena gak ada iming-iming materi? Bersihkan semua dari tendensi semu. Satukan langkah. Lakukan amar ma’ruf nahi mungkar. PERANGI ide-ide pemberdayaan perempuan yang hendak menohok Islam. BALASANnya adalah syurga. Kita satukan langkah... Perempuan berpolitik merupakan bagian dari kewajiban syara’, dengan menyeru perempuan untuk berkiprah dalam perpolitikan dengan paradigma ideologi Islam. Salah satu penyebab terpuruknya umat ini, karena mereka BUTA POLITIK ISLAM, sehingga umat selalu dipolitiki. Oleh karena itu, umat harus tau politik yang tentunya adalah POLITIK Islam yakni yang selalu peka memperhatikan persoalan dan kemaslahatan masyarakat, BUKAN perebutan kekuasaan dengan menduduki kursi legislatif untuk membuat aturan. ATURAN yang HAQ hanyalah milik Allah semata. Allahu Akbar 3x
Perempuan yang politikus…. dambaan masyarakat!! Women in politic….HARUS!!Labels: Opini
Lanjutannya...
|
posted by detrevolt_site @ 10:24:00 AM
  |
|
|
|
| Saturday, December 15, 2007
|
| Ehhmm....gatel juga nih jari...
|
Gak kerasa....udah lama Det gak ngisi blog en blogwalking.... Udah hampir sebulanan... Ini ajah nyempetin waktu karena ada yg harus dikirim secepatnya... Btw...kali ini Det mo nanggapin komentar yang ditujukan ke blog Det ini...persoalan tentang HIV/AIDS yang det tulis beberapa waktu lalu, dapet tanggapan dari pengunjung....
Begini yaa...my bro en sist pengunjung blog....
Det dapatkan beberapa data tentang pembagian jarum suntik streil gratis dari situs dinkes dan komisi penanggulangan AIDS (KPA). Disitu dijelaskan, karena makin meningkatnya angka penderita HIV/AIDS akibat pengguna narkoba suntik, maka pemerintah memberikan solusi berupa pemberian jarum suntik steril gratis, agar tidak makin menyebar... Nah...marilah kita berpikir lebih dalam, apakah solusi itu mampu memutus rantai angka HIV/AIDS?? Det yakin banget...kalo solusi itu gak bakal menurunkan angka tersebut...malah bisa jadi makin meningkat, karena pengguna narkoba merasa makin terfasilitasi dengan adanya prasarana itu... Walhasil, bukannya makin menurun malah makin meningkat... Sama halnya dengan kondom... Pada dasarnya, Det amat setuju dengan kondom. Namun, perlu diperhatikan sasarannya... Kondom hanyalah patut diberikan kepada pasangan suami istri dalam koridor untuk mencegah kehamilan.
Kondom amatlah tidak benar jika dibagikan secara gratis kepada PSK ato bahkan kaum muda yang belum menikah...
Untuk mengatasi masalah HIV/AIDS haruslah dilihat lebih dalam lagi... Bahwa penyebab penyakit itu, bukanlah virus, melainkan perilaku yang tidak sehat. Nah, untuk memutus rantai peningkatan penyakit tersbut, gak ada jalan lain selain memperbaiki perilaku masyarakat. Bukannya malah memberikan fasilitas berupa jarum suntik gratis atau kondom gratis...
Memang, ODHA adalah manusia yang senantiasa memiliki naluri untuk menyalurkan hasrat sex-nya...tapi, bukan dengan cara diberi kondom untuk bisa berhubungan sex dengan orang lain...
Pahamkan dia (ODHA) bahwa untuk berhubungan sex perlu institusi pernikahan... Nah, barulah untuk melindungi dirinya menularkan ke pasangan, dia harus menggunakan kondom... Intinya...solusi penanganan AIDS saat ini amatlah tidak relevan dan tidak akan mampu mengatasi angka AIDS yang makin meningkat.... Solusinya hanyalah memperbaiki tingka laku yang ada di masyarakat dan menjalin hubungan dengan semua bidang kehidupan. AIDS tidak akan bisa diatasi jika kita melihat dari sisi kesehatan saja. Bidang pendidikan sebagai pondasi dasar pemberian tingkah laku pada SDM, bidang ekonomi utk mengatasi makin menjamurnya PSK, bidang hukum yang harus mampu memiliki sistem sanksi yang tegas terhadap pelaku perzinahan, dan bidang-bidang lainnya yang harusnya ikut dilibatkan dalam penanganan HIV/AIDS ini....
Apakah anda masih tidak puas dengan argumen yang Det berikan??? Silahkan layangkan uneg2 anda via email....Labels: Opini
Lanjutannya...
|
posted by detrevolt_site @ 11:07:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, November 14, 2007
|
| Terperosok Ke Lubang Yang Sama, Mau??
|
Lagi. Masuk penjara tidaklah membuat jera bagi pengguna maupun pengedar narkoba. Hal ini pula yang menimpa kalangan masyarakat kita tak terkecuali kalangan selebritis. Selasa lalu, 13 NOPEMBER 2007, Roy Marten kembali tertangkap saat pesta sabu-sabu di sebuah hotel di Surabaya. Tidak adanya rasa jera dalam hukuman akan mengakibatkan orang terperosok ke lubang yang sama. Di penjara, seorang pemakai justru bisa leluasa memakai narkoba. Bahkan, penjara menjadi sarang peredaran narkoba. Apa yang salah dengan ini semua? Apakah individunya?? Ataukah sistem hukum yang kruang tegas dalam menindak pelaku kejahatan?? Tidak lain karena sistem hukum di negeri ini tidak konsisten dalam menindak kejahatan. Hukuman antara maling ayam dengan maling uang (koruptor), bisa jadi lebih lama maling ayam. Rakyat yang menebang satu pohon karena tidak punya izin dihukum lebih lama karena tak punya uang untuk bayar pengacara, sementara yang menebang sejuta pohon dengan jelas-jelas ilegal malah dibebaskan.Ketidak-konsistenan sistem hukum negeri ini makin membuat negeri ini berada dalam krisis berkepanjangan. Hukum di negeri ini masih menggunakan hukum jaman penjajah dimana aturan hukum itu adalah buatan manusia yang seringkali memberikan kerusakan, bukan perbaikan. Bila ingin memberikan hukuman bagi pelaku kejahatan hendaknya harus tegas. Bila narkoba telah menjadi teror dalam masyarakat kita, maka apapun kejahatan yang berhubungan dengan narkoba harusnya hukuman yang diberikan juga sama dengan pelaku teror lainnya, yakni hukuman mati. Karena fungsi hukum haruslah sebagai penebus kesalahan bagi pelaku di dunia. Dan yang paling penting adalah sebagai pencegah bagi orang lain untuk berbuat kejahatan. Satu hal lagi bahwa perbaikan sistem hukum juga harus diikuti dengan perbaikan sistem yang lainnya karena krisis multidimensi yang menimpa negeri ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu sistem saja. Ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan peran negara adalah pilar kunci bagi perbaikan persoalan negeri ini. Bila kita tidak ingin terperosok ke lubang yang sama, mulailah memahami bahwa akar persoalan negeri ini adalah penerapan sistem yang salah. Menggantinya dengan sistem secara holistik, yang bukan dari manusia adalah solusi paling tepat untuk krisis multidimensi negeri kita. Perbaikan individu saja tak akan memberikan penyelesaian bagi persoalan negeri ini. Akhlaq tanpa adanya perbaikan aqidah tidak akan pernah bisa berhasil dalam memperbaiki masyarakat. Yang perlu kita pahami, bahwa perbaikan masyarakat tidaklah sama dengan perbaikan individu. Persoalan masyarakat tidak akan bisa selesai bila hanya dengan memberikan konseling atau peningkatan akhlaq saja, karena aqidah masyarakat saat ini masih aqidah sekuler, dimana agama hanya berperan sebagai pengatur hubungan dia dengan Tuhannya. Padahal ada agama yang mampu berbuat tidak sebatas sebagai pengatur ibadah ritual semata, tapi juga sebagai pengatur kehidupan, bahkan memberikan solusi bagi segala persoalan. Itulah ISLAM. Islam amatlah berbeda dengan agama lainnya. Islam memiliki aturan yang amat lengkap untuk kehidupan manusia, apapun agama yang dia anut. Islam akan terasa sebagai the WAY OF LIFE bila ia diterapkan dalam satu institusi pemerintahan, yakni DAULAH KHILAFAH. So, tetep pengin terperosok dalam lubang persoalan?? yaa...biarin aja, sekalian aja gak udah hidup. Coz namanya bukan manusia kalo gak pengin menjadi lebih baik. Tapi kalo pengin berubah dan gak ingin terperosok dalam lubang kebobrokan yang sama, marilah beralih pada sistem Islam, yang udah jelas memberikan kesejahteraan hampir 1300 tahun, dan telah menguasai hampir 2/3 dunia... MAU??Labels: Opini
Lanjutannya...
|
posted by detrevolt_site @ 10:00:00 AM
  |
|
|
|
| Monday, November 05, 2007
|
| Makin Maraknya Aliran Sesat
|
Maraknya kemunculan aliran sesat membuat resah masyarakat khususnya dunia Islam. Kemunculan rasul baru, kitab suci baru, dan ajaran baru seringkali menyertai keberadaan aliran ini. Dan ingat, ini bukanlah pertama kali umat Islam diguncang dengan keberadaan aliran ini. Seringkali motif ekonomi turut mewarnai. Misal, hanya dengan membayar sejumlah uang tertentu, seseorang akan langsung mendapat jaminan masuk surga. Bayangkan saja kalau banyak yang menjadi pengikutnya.
Mengapa hal ini kerap terjadi? Ada dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah pemahaman umat Muslim tentang ajaran Islam. Akidah Islam adalah hal yang harus diimani 100 persen (rukun iman). Untuk masalah ini, jelas tidak boleh ada perbedaan dalam tubuh umat Islam. Faktor eksternal adalah iklim kebebasan tanpa batas. Hal ini secara tidak disadari membuat umat tak berpikir panjang tentang perbuatannya, apakah membuat keresahan atau tidak. Atau dengan kata lain, orang boleh merusak apa saja dengan alasan hak asasi.
Mestinya harus ada tolak ukur tentang benar atau salah. Dalam konteks ajaran Islam tentu Alquran dan Sunnah sumbernya. Maka, siapa saja yang bertentangan dengan pedoman ini harus dikatakan salah dan tidak boleh berkembang. Bila kita konsisten dalam paradigma HAM, maka pelarangan tersebut adalah dalam rangka melindungi hak asasi agama yang benar tadi. Pemerintah pun dituntut bersikap tegas yaitu dengan melarang dan membubarkan aliran ini. Sebab, dalam perspektif Islam, salah satu tugas pemerintah adalah membina, menjaga, dan melindungi akidah umat dari segala bentuk penyimpangan.
Tulisan ini adalah hasil pemikiran sister Det dari FK Bukannya sok narsis, tapi tulisan ini termuat di Harian Republika, 3 Nopember 2007
Keep Writing..!! Keep FIGHT!!! BASMI HABIS KAPITALIS dan SOSIALIS di NEGERI INI!!! KHILAFAH, No Matter Of Time!!!Labels: Opini
Lanjutannya...
|
posted by detrevolt_site @ 11:19:00 AM
  |
|
|
|
| Friday, November 02, 2007
|
| SDA Untuk Pendidikan Kita
|
Sumpah Pemuda tak hanya diperingati, tapi harusnya mampu sebagai bahan introspeksi. Pemuda di negeri ini makin menghilang ditelan sistem yang serba materialistik. Kualitas dari pemuda suatu negeri ditentukan oleh pendidikannya. Jika sistem pendidikan kita saat ini lebih mengutamakan materi, maka bisa dipastikan, orientasi mereka tak lebih untuk mencari kepuasan materi. Seharusnya pendidikan itu gratis. Negara kita ini memiliki sumber daya alam yang luar biasa banyaknya, sangat melimpah. Nah..kemana aja tuh SDA?? Kenapa masalah minimnya keuangan negara dijadikan alasan untuk memangkas anggaran pendidikan? Kita ini miskin karena kita salah dalam pengelolaan SDA tersebut. SDA yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, amatlah banyak. Jika SDA yang kita miliki diserahkan pada asing pasti akan hancur seperti ini, apalagi mental pejabat kita yang korup. Selama keadaan kita seperti ini indonesia tidak akan bisa maju bahkan akan terus mundur ke belakang. Karena Pemudanya yang bermental 'tempe', karena pendidikannya yang bersandar pada materi, dan karena sistem pemerintahannya telah salah pengaturan. Maka seharusnya kita kembali kepada tuntutan alkholiq. Yang aturanNya mampu memberikan solusi di setiap persoalan manusia. Sudah saatnya Pemuda kita bangkit dengan sistem pendidikan yang berbasis akidah, yang menjadikan persoalan umat sebagai persoalan dia.
NB: tulisan ini termuat di Harian SURYA Jum'at, 2 Nov'07Labels: Opini
Lanjutannya...
|
posted by detrevolt_site @ 9:37:00 AM
  |
|
|
|
|
| Aliran Sesat? Kenapa Muncul Kembali??
|
Televisi saat ini terisi dengan berita tentang munculnya kembali berbagai aliran sesat di negeri kita. Islam, sebagai agama yang mayoritas dipeluk oleh penduduk kita, telah disalahgunakan. Bagaimana aliran sesat ini muncul kembali, setelah penistaan agama yang dilakukan oleh Lia Aminuddin dan kelompok Ahmadiyah. Malahan, ada sekelompok orang yang membela aliran ini, dengan alasan mengatasnamakan hak asasi dan kebebasan. Mereka menilai hal ini merupakan kebebasan berkeyakinan individu dalam beragama.
Suatu hal yang konyol, bila aliran yang benar-benar terbukti menyesatkan manusia dari ajaran Islam yang sebenarnya, dibela mati-matian dengan mengatasnamakan HAM. Al Qur'an sebagai pedoman kaum muslim telah dibelokkan. Itu sudah jelas adanya skenario untuk mendangkalkan akidah kaum muslim, dan memisahkan mereka dari petunjuk yang hakiki, Al Qur'an dan As Sunnah.
Meski disinyalir adanya kepentingan ekonomi dalam aliran sesat kali ini, tapi tetap saja esensi dari berbagai aliran sesat adalah pembelokkan ajaran Islam dari Al Qur'an. Bahkan ada yang menterjemahkan Al Qur'an semau gue. Kenapa hal ini bisa terjadi? Tidak lain karena tidak adanya penjagaan akidah masyarakat oleh pemerintah. Adanya kecaman dari masyarakat, menunjukkan bahwa pemerintah baru akan bergerak bila masyarakat mengalami keresahan. Padahal aktivitas ini telah berjalan cukup lama. Sistem saat ini mampu memberikan angin segar bagi orang-orang untuk berupaya membelokkan kaum muslim dari pedoman kehidupan mereka. Mayoritas masyarakat sekarang sudah tidak menjadikan Al Qur'an sebagai pedoman. Islam hanya sebatas ibadah ritual semata. Maka dari itu, wajarlah bila muncul berbagai aliran sesat. Karena mereka menganggap tidak ada solusi bagi persoalan hidup mereka. Akankah sistem saat ini masih terus kita pertahankan, bila telah jelas kebobrokannya??Labels: Opini
Lanjutannya...
|
posted by detrevolt_site @ 9:11:00 AM
  |
|
|
|
| Monday, October 22, 2007
|
| Mari Jadikan ISLAM Mengancam..!!!
|
Sobat, mari kita jadikan Islam yang mengancam eksistensi ideologi dan pendukung Kapitalisme-Sekularisme, juga Sosialisme-Komunisme. Islam, sebagai ideologi punya kemampuan untuk itu. Buktikan saja.
Islam bukan sekadar ritual
Bro, ketika Islam hanya sekadar dipahami sebagai ibadah ritual belaka, paling nggak ada beberapa akibat or dampak yang bisa dirasakan faktanya:
Pertama, hilang kekuatannya. Yup, Islam jadi hilang kekuatannya. Karena apa? Karena kita hanya memahami Islam sebagai ibadah ritual belaka. Cuma ngurusin soal akhirat. Maka, dalam kurikulum di sekolah aja, perasaan dari dulu pelajaran agama cuma 2 jam pelajaran dalam seminggu. Jadi wajar aja kalo materi yang dibahas juga hanya seputar akidah, fikih (itupun sebatas sholat, puasa, zakat, haji, dan paling banter munakahat alias pernikahan), ditambah pelajaran sedikit tentang ilmu waris dam ngurus jenazah. Padahal, Islam tuh luas banget bahasannya. Nggak sekadar ngomongin surga-neraka aja. Dunia juga diperhatikan, Bro.
Guys, udah kebayang kan gimana jadinya kalo Islam cuma kita pahami sebagai ritual belaka. Kita anggap Islam cuma identik dengan masjid dan mushola aja. Jangan sampe deh orang memahami kaum Muslimin adalah baju koko, peci, jilbab, kerudung, dan sarung aja. Sehingga aneh kalo ada kaum Muslimin yang kerja di kantoran umum dan pandai ngomongin Islam. Itu nggak aneh bin ajaib. Justru yang aneh adalah ketika kaum Muslimin memahami bahwa Islam hanya boleh dibicarakan di masjid dan oleh mereka yang santri. Aduh, jangan sampe punya pikiran begitu terus.
Islam tuh kuat, jika dipahami sebagai ideologi. Islam tuh keren kalo kita menerapkannya sebagai akidah akliyah juga. Musuh-musuh Islam bakalan seneng kalo kita cuma mikirin akhirat mulu, karena merasa nggak bakalan ada yang ngusik kehidupan rusak mereka. Justru kalo Islam dipahami sebagai ideologi, musuh-musuh Islam bakalan mikir seribu kali (atau malah nggak berani?) untuk melawan Islam. Tapi, kalo kitanya cuma betah ngendon di masjid, sarungan mulu, dan menghindarkan diri dari politik (akidah siyasiyah), maka musuh-musuh Islam senang banget. Dan inilah kekalahan kita, karena Islam jadi hilang kekuatannya.
Kedua, turun derajat. Bukan ngeledekin atawa ngetawain. Memang kalo kita memahami Islam sebagai ibadah ritual aja, itu udah menurunkan level kita ke derajat yang rendah. Lihat aja, sekarang yang maksiat banyak banget. Mengapa kaum Muslimin banyak yang maksiat? Karena mereka barangkali (dan sangat boleh jadi) memahami bahwa Islam nggak punya aturan yang tegas untuk masalah dunia. Apalagi mereka ngelihat dalam sistem sekarang (Kapitalisme-Sekularisme) justru diberikan kebebasan orang berbuat apa saja asalkan nggak ngerugikan orang lain. Tapi, kalo pun ngerugiin orang lain, hukumannya nggak tegas, bisa dibeli dengan uang.
Akhirnya, para pencuri ayam tetep jalan, yang korupsi juga anteng aja. Abisnya, kalo pun ketahuan, hukum bisa dibeli dengan uang. Andai saja kebetulan tetep dihukum, hukumannya nggak sebanding banget dengan kejahatannya. Membunuh misalnya, cuma diganjar hukuman penjara (jumlah tahunnya tergantung model pembunuhannya). Itu sih nggak bikin kapok, apalagi meski dipenjara tetap bisa makan dan minum dengan gratis dan mungkin melihat televisi dan ‘nyari ilmu’ tambahan dari tayangan Brutal, Sergap, Buser, TKP, SIDIK dsb. Jadi jelas banget, ini menurunkan manusia (termasuk di dalamnya kaum muslimin) ke level yang rendah banget. Ancur bin amburadul!
Nah, berawal dari menganggap bahwa Islam cuma ngatur urusan akhirat dan sekadar ibadah ritual aja, ditambah dengan memahami bahwa Islam nggak bisa ngatur kehidupan dunia, maka mudah bagi manusia yang lemah iman untuk berbuat sesukanya dalam hidup ini. Padahal, ia sudah diberi akal untuk memahami kehidupan ini. Sudah dibimbing pula dengan al-Quran sebagai pedoman hidupnya. Seharusnya sih lebih beradab. Lebih tinggi derajatnya.
Ketiga, kaum muslimin menjadi tak berdaya. Rasulullah saw. bersabda: “Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”. Salah seorang shahabat bertanya: “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?” Rasulullah menjawab: “Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘wahn’”. Seorang sahabat Rasulullah bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ‘wahn’ itu?” Dijawab oleh Rasulullah saw.: “Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati.” (at-Tarikh al-Kabir, Imam Bukhari)
Sekarang udah terbukti, jumlah kaum Muslimin ini sebenarnya banyak di seluruh dunia. But, kita terpecah belah dan bahkan takut untuk berjuang. Sebagian dari kita cukup hanya merasa bahwa Islam menyejukkan bagi pribadi masing-masing. Bersamaan dengan itu, kaum Muslimin ogah berjuang membela dan menyebarkan Islam karena takut kematian. Padahal, kaum Muslimin wajib memahami Islam sebagai agama yang harus disebarkan kepada seluruh umat manusia. Dan seharusnya tergerak pula untuk berusaha memperjuangkan Islam sampai titik darah yang penghabisan.
Itu sebabnya, kalo dipahami bahwa Islam bukan hanya akidah ruhiyah, tapi sekaligus akidah siyasiyah, maka akan ada semangat dan keinginan untuk menyebarkan lagi akidah Islam ini ke seluruh penjuru dunia. Karena sudah memahami bahwa satu-satunya agama yang mampu menyelesaikan berbagai problem kehidupan adalah Islam. Tentu karena Islam mengatur kehidupan dunia dan juga akhirat dalam satu paket.
Tapi, kalo hanya merasa bahwa Islam tuh akidah ruhiyah saja, jadinya kaum Muslimin merasa terpisah dari kehidupan dunia. Akibatnya, untuk urusan akhirat diserahkan aja deh ke ustadz, kalo untuk berdoa bagiannya ulama aja. Jadi, bagi-bagi tugas gitu. Urusan akhirat ulama, dan urusan dunia ya pejabat negara dan masyarakat. Udah deh, makin lemah dan nggak berdaya aja umat ini. Kehilangan tajinya. Ngampleh alias ngejoprak aja kerjaannya. Punya potensi yang besar, tapi nggak digunakan dengan baik dan kalo pun digunakan tapi keliru. Islam ini hebat sebagai sebuah ideologi, tapi cuma dipahami sebatas akidah ruhiyah aja. Kalo gitu, apa bedanya dengan sekularisme. Tul nggak?
Pahami Islam sebagai ideologi Sobat, jangan lagi kita menganggap bahwa Islam cuma ngurus soal akhirat aja. Islam lihai juga lho ngurus dunia. Tapi dengan catatan, yakni kalo Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Jadi, mulai sekarang biasakan untuk memahami Islam sebagai ideologi. Oke?
Sekadar menekankan aja nih, bahwa nggak ada keraguan kalo akidah Islam tuh menjelaskan bahwa sebelum ada kehidupan dunia ini ada Allah Sang Pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan; bahwa Allah Pencipta manusia telah menurunkan aturan-aturanNya ke dunia ini untuk mengatur kehidupan manusia; dan bahwa manusia akan menuju alam akhirat dengan dimasukkan ke dalam surga atau neraka—begantung pada terikat-tidaknya dirinya dengan aturan-aturanNya. Itulah realitas akidah Islam yang harus diyakini oleh setiap Muslim.
Karena itu, agama Islam tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Seorang Muslim diperintahkan untuk menaati Allah Swt. di rumah, di pasar, di mal, di kendaraan, di kantor, di sekolah, di masjid, di ruang pertemuan, di mess, di hotel, dan di setiap tempat. Demikian juga ketika makan, minum, berpakaian, berakhlak, beribadah, dan berbagai muamalah.
Sobat muda muslim, Islam adalah agama yang nggak bisa diceraikan dari politik (baca: negara). Itu sebabnya, Imam al-Ghazali berkata: “Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.” (Dalam kitabnya, al-Iqtishad fil I’tiqad hlm. 199)
Dengan kenyataan seperti ini, tentunya kita berharap banget nih kaum Muslimin (khususnya remaja) segera nyadar. Kita ini hebat, tapi karena kita kebanyakan nggak memahami Islam sebagai ideologi, cuma tahu Islam tuh ngurus ibadah ritual belaka, maka akibatnya kita jadi lemah, tak berdaya, hilang kekuatannya, dan tumbuh subur kemaksiatan dalam kehidupan kita. Kondisi ini bikin musuh-musuh Islam seneng ati karena Islam nggak bikin mereka merasa terancam. Nah mulai sekarang, kuatkan pemahaman Islam sebagai ideologi. Biar lebih mantep mengenal dan meyakini Islam. Setuju kan?? [solihin: sholihin@gmx.net]Labels: Opini
Lanjutannya...
|
posted by detrevolt_site @ 11:04:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, October 10, 2007
|
| Mau sehat kok Mahal??? Tanya Kenapa?!
|
Beberapa waktu yang lalu, Det dapet tugas utk menganalisa headline sebuah media. Det ambil topik Indonesia sehat... Alasannya, bidang Det gak jauh dari situ, selain itu juga ada opini yang mo Det berikan ke pembaca...Okey, simak aja yaa...
Resume Koran Jawapos, 27 September 2007
Kebijakan Menteri Kesehatan dalam penyeragaman tarif RSUD tidak kunjung terlaksana. Disinyalir sebagai salah satu penghambatnya adalah perda yang mengatur tarif rumah sakit. Sistem otonomi daerah yang sedang digalakkan oleh departemen dalam negeri sebagai faktor penghambat untuk penyeragaman tarif rumah sakit daerah. Dalam data yang ada, Menteri Kesehatan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) No.989/Menkes/SK/IX/2007 tentang pemberlakuan Sistem Standar Baku Biaya Rumah Sakit Pemerintah, sejak 3 September lalu. SK yang hanya mengatur tairf kelas III itu belum berjalan, karena RSUD masih mengacu pada perda. Isi dari Perda yang dibuat ketika diterapkan otonomi daerah, amat tidak sinkron dengan sistem harga paket yang ditetapkan untuk pelayanan kelas III RSUD. Padahal tujuan dari rencana penyeragaman tarif rumah sakit itu adalah utnuk membantu masyarakat agar tidak lagi dibohongi dengan harga obat-obatan dan tarif kamar yang melambung. Dengan sistem yang dibuat oleh Menteri kesehatan tentang penyeragaman tarif rumah sakit ini, harga obat, operasi, visite dokter, dan laboratorium bisa seragam. Bila harganya standar, masyarakat tahu berapa harus membayar. Namun, karena adanya ketidaksinkronan antara SK Menteri Kesehatan dengan perda, maka penyeragaman tarif rumah sakit daerah belum bisa terlaksana. Dalam artikel di Radar Banten, juga mengatakan hal yang serupa, bahwa tarif RSUD tidak mungkin untuk diseragamkan. Alasannya, penetapan tarif di tiap-tiap RSUD berdasarkan beberapa aspek, diantaranya kemampuan masyarakat, inflasi, daya beli, dan sebagainya. Kemampuan masyarakat di daerah yang satu tentunya berlainan dengan masyarakat daerah lain.
Analisa Det
Dalam UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, memberikan kewenangan untuk daerah otonom (daerah Kabupaten dan Kota) untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan UU No. 22 Tahun 1999 itu, pemerintah telah mengeluarkan PP No. 25 tahun 2000. Pada pasal 2 dari PP ini mengatur tugas dan wewenang desentralisasi bidang kesehatan pada daerah provinsi sebagai daerah otonom. Selanjutnya, Surat Edaran (SE) Menkes No. 1107.Menkes/E/VII/2000 mengatur tugas dan wewenang dekonsentrasi bidang kesehatan pada daerah provinsi sebagai wilayah administratif dan daerah Kabupaten/Kota sebagai daerah otonom. Permasalahannya adalah untuk menuju Indonesia sehat 2010, antara departemen Dalam Negeri selaku penetapan kebijakan dari otonomi daerah dengan departemen Kesehatan selaku pemberi kebijakan di bidang kesehatan tidak mampu berjalan seiringan. Padahal, dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik dengan peningkatan kesehatan pada tahun 2010 nanti, diharapkan semua bidang saling bekerja sama. Upaya pemerintah dalam desentralisasi kesehatan amatlah berdampak negatif bagi masyarakat. Selama ini, pihak pelaksana pembangunan kesehatan di daerah (dinkes Kabupaten/Kota) sudah terbiasa dengan kebijakan yang digariskan secara top-down. Sementara itu, mereka tidak terbiasa menyusun program kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat. Di sisi lain, masyarakat sebagai objek pembangunan, dengan adanya desentralisasi kesehatan ini, akan turut serta menentukan apa yang menurut mereka baik sesuai untuk dilakukan. Hal ini tidaklah mudah, tidak saja karena selama ini masyarakat jarang dilibatkan dalam setiap program pembangunan, tetapi juga adanya rasa kecewa yang dialami masyarakat terkait meningkatnya biaya kesehatan. Peningkatan biaya kesehatan itu tidak dibarengi dengan keoptimalan dari pelayanan kesehatan. (tempointeraktif, 23 Februari 2004). Telah jelas sekali, bahwa untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010 seluruh departemen di pemerintahan seharusnya bekerjasama dan saling mensinkronkan segala kebijakannya. Bila Menteri Kesehatan menginginkan penyeragaman tarif demi membantu masyarakat, upaya ini juga harus didukung oleh departemen dalam negeri. Yakni dengan menghapus perda tentang otonomi daerah yang amat bertentangan dengan kesejahteraan masyarakat. Begitu juga dengan departemen ekonomi, departemen tenaga kerja maupun departemen yang lainnya. Untuk melibatkan masyarakat dalam upaya mewujudkan Indonesia sehat 2010, dibutuhkan adanya perbaikan dari ekonomi masyarakat. Berbagai harga kebutuhan pokok harusnya juga seimbang dengan kebutuhan hidup mereka. Pendistribusian hasil SDA Indonesia dan berbagai macam pemasukan harusnya bisa merata di setiap daerah. Pendistribusian itulah yang seharusnya menjadi perhatian utama Pemerintah saat ini, bukannya upaya ekspor-impor dan bantuan luar negeri yang mampu menjerat kita. Ketergantungan kita pada asing harus mampu kita hapuskan. Menumbuhkan kepercayaan diri untuk mampu mengelola sendiri SDA dalam negeri harus terwujud demi kesejahteraan rakyat. Sama halnya dengan ekonomi, dalam bidang tenaga kerja harusnya pemerintah membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan untuk masyarakat. Semua itu hanya akan terwujud jika pemerintah kita bisa menerapkan sistem sentralisasi pemerintahan. Upaya otonomi daerah hanya akan memperburuk kondisi masyarakat, yang artinya adalah melepaskan tanggung jawab pemerintah pusat untuk mengurusi kepentingan masyarakat. Dalam otonomi daerah, pemerintah pusat tidak ikut campur pengurusan segala keperluan yang ada daerah, termasuk pemasukan ekonomi maupun kebijakan yang dibuat untuk masyarakat. Penyeragaman tarif RSUD akan bisa terlaksana jika perda dalam otonomi daerah dihapuskan. Paradigma untuk desentralisasi kesehatan juga harus bisa dihilangkan. Karena untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010 seluruh departemen dalam pemerintahan saling bekerjasama dan mengaturnya dengan sistem sentralisasi. Pemerintah pusat sebagai pemegang kebijakan juga harus mampu turun ke bawah (turba) untuk melihat persoalan yang terjadi di masyarakat. Dengan sistem yang kita terpakan saat ini, amatlah mustahil hal diatas akan terwujud. Sistem Kapitalis-sekuleris yang sedang diterapkan pemerintah saat ini amat mendukung terjadinya kesenjangan, kemiskinan dan berbagai krisis di negeri ini. Krisis multidimensi yang sedang kita hadapai sekarang hanya akan mampu terselesaikan dengan menggunakan sistem sentralisasi yang kuat. Sistem tersebut pernah diterapkan selama 13 abad di hampir 2/3 wilayah dunia. Sistem yang pernah memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat dari berbagai etnis, suku, dan agama. Itulah sistem Islam, yang memberikan kemajuan di segala bidang jika mampu diterapkan, tak terkecuali di Indonesia. Jadi, jika ingin mewujudkan Indonesia sehat 2010, pemerintah harus menerapkan sistem Islam dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya di bidang kesehatan saja. ------------------------------------------------------------------ Diatas adalah opini dari sudut pandang Det. Analisanya tentu juga dari sisi Det... Det seneng banget kalo ada yang mo ngasih tanggapan ato sanggahan....Labels: Opini
Lanjutannya...
|
posted by detrevolt_site @ 1:43:00 PM
  |
|
|
|
|
| = Det's Profile = |
|
![]()
Name: detrevolt_site
Home: Surabaya, East Java, Indonesia
About Me: This my site...story and my opinion-ideology site...so..if u dont mind..i'm so sorry...
Karena saya hanyalah seorang manusia lemah yang masih butuh banyak belajar....
See my complete profile
|
| = Hadith = |
|
|
| = Previous Post = |
|
| = Archives = |
|
|
| = Det's Links = |
|
| = Det's Friends = |
|
|